jump to navigation

Kontroversi Minimarket 10 Desember 2012

Posted by ram in Alfamart, Indomaret, SB Mart.
Tags: , ,
trackback

“Ijin minimarket dipersulit karena dikhawatirkan akan mematikan usaha pedagang kecil, dengan dalih menguatkan ekonomi kerakyatan, Pemerintah Daerah dan DPRD setting perda yang bertolak belakang dengan pasar bebas, LSM pun bermain menjadi pahlawan untuk pedagang kecil, tapi ijin untuk minimarket tetap bisa keluar kalau upetinya besar ke penguasa!”

minimarket

Apa benar pedagang kecil mati karena minimarket?

Apa yang mereka takutkan dengan hadirnya minimarket?
Apa jadinya kalau semua minimarket di Indonesia tutup karena ijin diperketat/dipersulit?

Pastinya pengangguran bertambah, karena karyawan2 minimarket juga rakyat kecil dan minimarket yang ada sekarang juga asli Indonesia yang punya hak berusaha dinegaranya sendiri!

Apakah dengan diperketat/dipersulitnya pasar modern demi membela pasar tradisional maka perekonomian Indonesia menjadi lebih baik, atau kita malah jadi terbelakang karena menolak modernisasi?

Disuatu daerah ada rencana minimarket berdiri, ijin lingkungan berjalan mulus dan masyarakat (konsumen) mengharapkan kehadiran minimarket tersebut, apalagi perekrutan karyawannya dari kampung sekitarnya.
Tapi ada dua warung rumahan yang menolak keras hadirnya minimarket itu, dengan segala cara dua orang pemilik warung tersebut mati2an menolak….
Mereka kemudian membuat spanduk yang isinya….

”KAMI WARGA KAMPUNG A MENOLAK HADIRNYA MINIMARKET X DI DAERAH KAMI!”

Sangat ironis, justru sebagian besar warga/konsumen tidak menolak….

Maka dua orang pemilik warung tersebut membuat surat ke Pemda dan DPRD, yang isinya keberatan adanya minimarket didekatnya.

Dua orang pemilik warung itu juga tidak habis akal, mereka berdua mengajak sejumlah warga agar ikut menolak minimarket, sebagian warga yang tadinya mendukung minimarket jadi menolak, juga pedagang martabak, pedagang baso, pedagang warteg, bengkel motor dan pedagang kaki 5 yang dihasut untuk menolak minimarket X yang akan hadir di kampungnya.
Datanglah wartawan yang meliput media lokal dan LSM yang mengatas namakan himpunan pedagang kecil ikut menolak minimarket.
Akhirnya rencana minimarket tersebut jadi terhambat.

Para pengurus RT/RW, Kades dan Camat juga bingung, disatu sisi mereka sudah mengijinkan dan lingkungan/sebagian besar warga tidak keberatan, tapi sekarang karena ada dua warung yang menolak, masalah jadi besar. Maka jalan tengah diambil, musyawarah dibalai desa antara pihak minimarket, warga yang setuju dan warung yang menolak. Pro dan kontra mencuat ditengahi para aparat.
Timbul kesepakatan dari warga, agar minimarket yang akan hadir diwilayahnya menyumbang dana fasos dan dana pembangunan tempat ibadah, semua dipenuhi….
Tapi dua warung tetap menolak keras, dua warung tersebut meminta kompensasi kepihak minimarket agar membayar kerugian…., negosiasi berjalan alot karena pihak minimarket merasa permintaan dua warung itu tidak masuk akal. Kesepakatan buntu dan pihak minimarket X belum berani beroperasi didaerah tersebut, walaupun sebagian besar warga/konsumen dan perijinan menerimanya. HEBAT! Cuma karena dua warung menolak, pengoperasian minimarket itu jadi terhambat!
Bagaimana menurut anda?

Sampai beberapa bulan bangunan minimarket X yang sudah jadi itu terbengkalai dan akhirnya sebagian besar masyarakat/konsumen dan pengurus RT/RW, Desa dan Kecamatan mengijinkan minimarket tersebut diwilayahnya karena :
1.Perekrutan tenaga kerja dari lingkungan setempat.
2.Pihak minimarket yang akan beroperasi akan mengikuti aturan2 yg berlaku dikampung itu.
3.Pertimbangan kemajuan dan bertambahnya investor maka daerahnya menjadi maju.
4.Para tokoh masyarakat dan ulama juga mendukung rencana minimarket X, dengan alasan: ”Asal bukan tempat maksiat yang dibangun dikampungnya!”
Mereka sangat menerima, para ulama juga berpesan: “Urusan rezeki Allah SWT Yang mengatur!”

Alasan dua warung menolak minimarket :
1.Omzetnya akan turun karena kalah bersaing dengan investor yang bermodal besar.
2.Belum lagi hutang/pinjaman modal usaha warungnya di Bank yang belum lunas.
3.Kecemburuan sosial.

Hmm….
Dua orang pemilik warung itu mendapat cibiran dari masyarakat yang sebagian besar mendukung minimarket dikampungnya.

Pihak minimarket memberi kompensasi juga kepada dua orang pemilik warung tersebut, tapi tidak sebesar tuntutan yang lalu.
Pengoperasian minimarket dikampung itu berjalan lancar.
Setelah minimarket X beroperasi, kampung A menjadi terlihat ramai dari sebelumnya, dua warung yang awalnya menolak karena takut omzetnya turun dengan adanya minimarket didekatnya, omzetnya sekarang seperti biasa saja, walaupun sedikit berkurang.

xxxx….

“Tulisan ini hanyalah fiktif belaka, kalau ada kesamaan tokoh, peran dan tempat dalam tulisan ini yaa memang benar begitu adanya…., xixi!”

Disinilah pentingnya peran warga, tokoh masyarakat dan para ulama.
Musyawarah untuk mufakat itu sangat diperlukan.
Menurut saya, kalau pedagang kecil menolak wajar2 saja!
Mereka pasti mengadu ke DPRD dan Pemda setempat.
Akhirnya Pemda membuat Perda tentang ijin Minimarket yang diperketat.
Tapi dibalik itu semua, semakin keras pedagang kecil menolak dan mengadu ke DPRD atau Pemda justru akan memberi lahan pungli baru bagi oknum2 Aparat pemerintah.
Pemda dalam hal ini memperketat karena berbagai macam alasan, tapi ijin Minimarket tetap keluar asal upetinya makin besar!
Inilah busuknya oknum aparat yang berkompeten dalam masalah ini!

Para pedagang kecil/pasar tradisional hanya ketakutan sesaat, kadang berkepanjangan dengan hadirnya minimarket didekat mereka.

Apakah anda (konsumen biasa/pedagang kecil) dan para LSM yang menjadi pahlawan bagi pedagang kecil dapat menerima ini semua?

Untuk menjadi bangsa yang maju tentunya harus siap menerima perubahan!

Walaupun dalam prosesnya banyak yang dikorbankan!

Semoga menjadi bahan renungan buat anda yang disudut meja kantor…., kalau saya sih sudah malas mikirinnya!

puciiiing

Artikel-artikel terkait tentang minimarket!

About these ads

Komentar»

1. Yudi - 10 Desember 2012

Mungkin harus ada studi kelayakan yang lebih terperinci lagi sebelum izin turun dari pemda..

2. ram - 10 Desember 2012

^
Betul bro..
Study kelayakan dan perda mengenai minimarket sudah ada di tiap daerah tingkat kota/kabupaten dan provinsi.
Regulasinya pun sudah jelas!
Tapi yaa itu tadi, selalu ada pihak-pihak yang “bermain lenong” memanfaatkan sikon tersebut!
Masyarakat (konsumen) sih asyik-asyik saja, kecuali masyarakat (pedagang) yang merasa terusik!
Kemudian “di bumbui penyedap rasa” oleh LSM dan oknum aparat yang berkompeten!
:-D

3. rsaputro - 10 Desember 2012

haha.. itu harusnya antara minimarket jaraknya jauh dari pasar tradisional gan.. jos lah
http://bang-o.blogspot.com/2012/12/efek-samping-cuci-sepeda-motor.html

4. ram - 10 Desember 2012

^
Iya bro…., tiap-tiap daerah sudah ada perdanya, termasuk aturan jarak dsb.
Tapi yaa…., gitu deehh?!
:-D

5. yisha - 10 Desember 2012

sama, yisha malas mikirinnya…
*eh, yisha ngga bisa mikir, hina idiot mana bisa mikir….. :P

6. ram - 10 Desember 2012

^
Sstt…., yisha itu cuma males mikir & males nyuci kaos kaki!
:-D

xixixixi….

7. yudha depp - 10 Desember 2012
8. yellowduck - 10 Desember 2012

di kampung ku, pedagang malah ambil barang di minimarket, soalnya harga lebih murah trus bisa di jual lebih mahal lg.

9. ram - 10 Desember 2012

@yudha depp
Ok Bro…., thx kunjungannya.

@yellowduck
Nah memang benar ada di beberapa daerah yang seperti itu.
Di mana harga minimarket menyamai harga grosir, dengan pelayananan nyaman, ruangan ber-ac dan ini keunggulan belanja di minimarket.
Ini salah satu faktor yang mengusik para pedagang kecil!

10. Bung Iwan - 10 Desember 2012

yang saya tidak suka ttg minimarket adalah….. mereka tidak sediakan duit receh untuk kembalian! harusnya siap dong dng konsekuensi buka minimarket?

11. ram - 11 Desember 2012

^
Hehe..
Masalah klasik di minimarket itu gan, betul juga seperti postingan di blog Bung Iwan sendiri “tentang kembalian uang receh di ganti dengan permen!”
Konsumen berhak menolaknya!
:-D

12. Ada2 saja - 11 Desember 2012

Mungkin kebetulan di kampung itu hanya ada dua warung, tapi faktanya dalam satu kawasan pertokoan, meskipun di desa ada banyak, bisa belasan, warung, Dengan adanya minimarket, warung-warung ini pasti banyak yang sekarat. Betul, ada karyawan yang direkrut, tapi hanya beberapa jumlahnya dengan gaji yang pas-pasan pula. Yang sangat berbahaya adalah matinya semangat dan kesempatan warga desa untuk berwirausaha dalam sektor perdagangan (toko/warung/kelontong). Sepuluh warung mati/tutup dan hanya sepuluh orang yang terserap sebagai tenaga murahan di minimarket. Warga desa hanya akan menjadi jongos dan budak pemilik kapital. Pasar bebas adalah prinsip kapitalisme, yang tidak sedikit membawa petaka, terutama bagi ekonomi kerakyatan.Tolong jangan sederhanakan masalah dengan gambaran dua warung yang iri, lihatlah permasalahan secara lebih dalam dan luas, tentu dengan pola pikir dan budaya kita.

13. ram - 11 Desember 2012

^
Aslinya ini nyata pernah terjadi pada beberapa daerah di wilayah Banten, dan dari beberapa kasus yang saya ikuti langsung.
saya setuju komentar anda (thx inputnya). :-)
“Simak juga yang saya garis bawahi….!”
Adalah maksud tujuan artikel ini menyentil, yaitu para LSM dan oknum aparat berkompeten yang memanfaatkan situasi tersebut!

14. Wong Cilik - 12 Desember 2012

penguatan pedagang kecil mestinya lewat pelatihan gitu ya, jadi mereka bisa tetap bersaing dengan minimarket, sama-sama maju gitu, bukannya saling mematikan … :D

15. ram - 13 Desember 2012

^
Setuju gan…., walaupun sangat sulit bagi pedagang kecil bersaing dengan kapitalis.

16. Jokowi anti Minimarket « ram - 14 Desember 2012

[...] Kontroversi Minimarket. [...]

17. joyobowo - 4 Februari 2013

serius bener bang, biasanya canda mulu, ahaii

18. ram - 4 Februari 2013

17. joyobowo – 4 Februari 2013

serius bener bang, biasanya canda mulu, ahaii

———-

Lagi normal bro..

bolakbalik

:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: